Jember, 6 Juni 2026 — Program
Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), FTIK PAI (FTIK),
UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, sukses menyelenggarakan kuliah tamu
bertajuk “Self Discovery Journey: Membangun Personal Branding dan Resiliensi
Era Digital Berbasis Nilai-Nilai Islam.” Kegiatan yang berlangsung di Aula
FTIK pada Jumat, 6 Juni 2026, tersebut diikuti oleh jajaran dosen dan ratusan
mahasiswa PAI dari berbagai angkatan.
Mengangkat isu yang semakin relevan dengan
kehidupan mahasiswa di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, kuliah
tamu ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembekalan bagi mahasiswa untuk
mengenali potensi diri, membangun citra diri yang positif, serta mengembangkan
ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FTIK
UIN KHAS Jember, Dr. H. Abdul Mu’is, S.Ag., M.Si. Dalam sambutannya,
beliau menekankan pentingnya membangun ketangguhan mental sekaligus identitas
diri yang kokoh di tengah derasnya arus informasi dan perubahan digital.
“Mahasiswa PAI harus mampu memosisikan diri di
garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat. Salah satu
instrumen efektif yang dapat digunakan pada masa kini adalah melalui
pembentukan personal branding yang positif dan konstruktif di media
sosial,” tegas Dr. Abdul Mu’is.
Menemukan
Jati Diri sebelum Membangun Personal Branding
Untuk mengupas tema tersebut secara lebih
komprehensif, Program Studi PAI menghadirkan Dr. Festa Yumpi Rahmanawati,
M.Si., Psikolog, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Dr. Festa
menjelaskan bahwa self discovery journey atau perjalanan menemukan jati
diri merupakan fondasi penting sebelum seseorang membangun citra dirinya di
ruang publik.
Menurutnya, personal branding tidak
semata-mata berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain.
Lebih dari itu, personal branding berangkat dari kemampuan mengenali
potensi, nilai-nilai kehidupan, karakter, serta tujuan yang dimiliki seseorang,
kemudian mengomunikasikannya secara konsisten kepada publik.
“Personal branding bukanlah sebuah
pencitraan semu. Konsep ini berbicara tentang bagaimana kita mengenali potensi
internal, nilai hidup, dan tujuan esensial, lalu mengomunikasikannya secara
konsisten. Bagi mahasiswa PAI, nilai-nilai profetik seperti shiddiq, amanah,
tabligh, dan fathanah harus diinternalisasikan menjadi DNA dari branding
tersebut,” jelas Dr. Festa.
Penekanan tersebut menjadi penting bagi
mahasiswa PAI karena aktivitas di ruang digital tidak hanya membentuk citra
personal, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan
nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.
Resiliensi
sebagai Bekal Menghadapi Tekanan Era Digital
Selain membahas personal branding, Dr.
Festa juga menyoroti pentingnya resiliensi atau ketangguhan diri bagi
mahasiswa dalam menghadapi berbagai tekanan psikologis di era digital.
Fenomena seperti cyberbullying, krisis
identitas, hingga FOMO (Fear of Missing Out) menjadi tantangan yang
dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kepercayaan diri generasi muda. Dalam
situasi tersebut, kecerdasan spiritual dan emosional menjadi salah satu bekal
penting agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh standar validasi yang
berkembang di dunia maya.
Mahasiswa diajak untuk tidak menjadikan
respons, jumlah likes, komentar, maupun pengakuan di media sosial
sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dan nilai diri. Sebaliknya, mahasiswa
perlu memiliki pijakan nilai yang kuat sehingga mampu menggunakan media digital
secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab.
Mahasiswa
Antusias Eksplorasi Strategi di Ruang Digital
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi
diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator. Para mahasiswa aktif
mengeksplorasi berbagai strategi praktis untuk membangun citra diri yang islami
di platform digital, termasuk Instagram dan TikTok.
Selain berdiskusi mengenai strategi personal
branding, mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk
berkonsultasi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan
stres akademik dan tantangan psikologis yang mereka hadapi dalam kehidupan
sehari-hari.
Interaksi yang berlangsung menunjukkan bahwa
isu pengembangan diri, kesehatan psikologis, dan keberadaan mahasiswa di ruang
digital merupakan topik yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Mencetak
Lulusan PAI sebagai “Influencer Kebaikan”
Di penghujung kegiatan, Koordinator Program
Studi PAI, Dr. Hj. Fathiyaturahmah, M.Ag., menyampaikan harapannya agar
pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa melalui kuliah tamu dapat
menjadi bekal yang aplikatif dalam kehidupan akademik maupun sosial.
“Kami berharap lulusan PAI UIN KHAS Jember
tidak hanya cakap dan kompeten di dalam ruang kelas sebagai pengajar, tetapi
juga mampu bertransformasi menjadi influencer kebaikan yang tangguh,
adaptif, dan membawa dampak positif di era digital,” pungkas Dr.
Fathiyaturahmah.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan
komitmen Program Studi PAI untuk membekali mahasiswa tidak hanya dengan
kompetensi akademik dan pedagogis, tetapi juga dengan karakter, ketangguhan,
serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kegiatan kuliah tamu kemudian ditutup secara
formal dengan prosesi penyerahan cendera mata kepada narasumber dan sesi foto
bersama seluruh civitas akademika yang hadir. Melalui kegiatan ini, Program
Studi PAI UIN KHAS Jember berharap mahasiswa semakin mampu mengenali dirinya,
mengembangkan potensi secara optimal, serta hadir di ruang digital sebagai
pribadi yang percaya diri, tangguh, adaptif, dan tetap berlandaskan
nilai-nilai Islam.