BERITA ACARA KEGIATAN JALSAH BULAN OKTOBER " Pelatihan Membaca Kitab Kuning Metode Al-Bidayah dengan Kitab Safinatun Najah "
Pada hari Sabtu, 11 Oktober 2025, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) FTIK UIN KHAS Jember Periode 2025–2026 sukses menyelenggarakan kegiatan Jalsah dengan tema “Pelatihan Membaca Kitab Kuning Metode Al-Bidayah dengan Kitab Safinatun Najah”. Acara ini bertempat di Gedung G26 dan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan suasana yang khidmat, interaktif, dan penuh semangat dari seluruh mahasiswa PAI yang hadir.
Kegiatan ini menghadirkan Bapak Ari Dwi Widodo, S.Pd.I., M.Pd.I., selaku praktisi dan pengampu Metode Al-Bidayah yang berpengalaman dalam bidang pembelajaran kitab kuning. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan motivasi spiritual tentang pentingnya menuntut ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah ?:
> “Orang yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi)
Beliau juga menambahkan bahwa “Satu orang yang mencari ilmu lebih utama daripada seribu orang yang mengerjakan salat seribu rakaat.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa menuntut ilmu adalah amal yang sangat mulia dan menjadi fondasi utama bagi kemajuan umat Islam.
Adapun pokok-pokok materi yang disampaikan antara lain sebagai berikut:
1. Pentingnya kemampuan membaca kitab kuning (literatur Arab tanpa harakat):
Beliau menegaskan bahwa penguasaan teks Arab merupakan hal yang sangat penting bagi calon intelektual muslim, sebab tidak semua kitab tafsir dan syarah hadis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penguasaan ini menjadi jalan untuk memahami sumber ilmu Islam secara lebih mendalam.
2. Pengenalan Metode Al-Bidayah:
Metode ini digagas oleh Dr. KH. Abdul Haris, M.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bidayah Jember, yang menekankan kemudahan dalam memahami ilmu nahwu dan sharaf melalui pendekatan yang sistematis dan kontekstual.
3. Tahapan pembelajaran dalam Metode Al-Bidayah:
Al-Hifdzu (menghafal) → membangun dasar penguasaan kaidah;
Al-Fahmu (memahami) → menafsirkan struktur bahasa;
Al-Tathbiq (mempraktikkan) → membaca teks secara langsung.
4. Penerapan metode peer tutoring (tutor sebaya):
Metode ini membuat proses belajar lebih interaktif dan saling membantu antar peserta.
5. Praktik membaca Kitab Safinatun Najah:
Peserta diajak langsung membaca dan menganalisis teks kitab, seperti pembahasan Arkanul Iman dan Arkanul Islam, menggunakan pendekatan Al-Bidayah secara bertahap.
Selama pelatihan berlangsung, suasana kelas sangat hidup. Mahasiswa PAI tampak antusias mengikuti setiap sesi, aktif berdiskusi, dan saling berbagi pemahaman mengenai teks yang dipelajari. Interaksi yang terjalin menciptakan suasana belajar yang hangat, kolaboratif, dan penuh semangat kebersamaan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa PAI dapat meningkatkan keterampilan membaca kitab kuning, memahami dasar-dasar ilmu alat dengan baik, serta mampu menerapkannya dalam studi keislaman dan kehidupan akademik.
Jember, 11 Oktober 2025
Hormat Kami,
Panitia Pelaksana JALSAH
Bidang I Keilmua



